"Sejak berangkat dari Belanda seluruh pemain sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera tiba di Ambon, bertemu dengan sanak saudara serta menikmati keindahan tanah leluhurnya," ujarnya.
Dia mengatakan, seluruh pemain yang datang untuk mengikuti program "Indonesia Tanah Air Beta" itu, merupakan keturunan ketiga dari warga Maluku yang telah bermukim di Belanda sejak 60 tahun terakhir.
Sam Pormes mengatakan, kedatangan 21 pemain keturunan Maluku, tanpa Geovanni van Bronckhorst, untuk menunjukkan penghormatan kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Maluku dapat membangun kembali daerah ini dari kehancuran akibat konflik sosial masa lalu.
"Ini bentuk balas budi kami kepada pemerintah dan masyarakat yang mampu bangkit dari keterpurukan dan membangun kembali rasa persaudaraan yang kuat. Saat ini kami hanya bisa membalas budi baik pemprov dan masyarakat dengan memberikan pendidikan sepak bola," tandasnya.
Benju Nunumete (VVV Venlo), Mahiri Sabandar (NEC Nijmegen), Sagall Hertog (Top Oss), Martinus Titaley (Fortuna Sittard), Nicky Munz (PSV Eindhoven), Michel van Veen (Fortuna Sittard/KRG Genk), Allesio Franciscus (Fortuna Sittard), Timmy Hattu (VVV Venlo), dan Didi Taihuttu (Fortuna Sittard), serta didampingi Johnny Taihuttu (pelatih), Max Hattu (Asisten Pelatih).
Selama di Ambon 13-17 Maret, 21 pemain itu akan melakukan serangkaian kegiatan, di antaranya pelatihan kepada pemain muda, pertandingan persahabatan, workshop pada pelatih lokal, serta mendukung pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) menggiring bola bersama 5.000 warga Ambon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar